KIK di Facebook

Bergabung dan ikutilah Grup Kajian Islam Komprehensif di jejeraing sosial Facebook untuk berdiskusi tentang perbagai persoalan Islam dan Ummat Islam.

Kajian Islam Komprehensif

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian kepada Islam secara kaffah (menyeluruh), .......” [Al-Baqarah : 208].

Selamat Tahun Baru Islam - 1 Muharram 1433 Hijriyah

Pergantian tahun seyogyanya menjadi bahan perenungan kita tentang perjalanan hidup. Apakah yang sudah berubah dalam hidup kita

Sebaik-Baik Insan

Sebaik-baiknya manusia disisi Allah SWT. adalah yang paling memberi manfaat di antara mereka.

Kirim Artikel di Blog KIK

Anda Bisa Berpartisipasi dengan Mengirimkan Artikel atau Berkomentar di Blog Kajian Islam Komprehensif ini.

Tampilkan postingan dengan label TAFAKUR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TAFAKUR. Tampilkan semua postingan

24.11.11

Keimanan dan Keamanan

”Kebiasaan orang-orang qurays ,(1) melakukan perjalan pada waktu musim dingin dan musim panas. (2) maka hendaklah mereka menyembah Tuhan (Allah) pemilik rumah ini (ka’bah). (3) yang telah memberi makan ketika kelaparan dan memberi rasa aman ketika ketakutan (4).” (Q.S. Al Quraisy (106) ayat 1-4)
 Dahulu, dimasa Jahiliyah, tradisi orang-orang quraisy sudah dikenal sebagai masyarakat pedagang, mereka berdagang dari satu negeri kenegeri yang lain di jazirah Arabia. Salah satu gangguan diperjalanan kafilah dagang tersebut adalah sering terjadi perampokan yang dikenal dengan ”Qutha’u At Thoriq” (penyamun). Perjalanan melintasi padang pasir yang tandus, berdebu, kering, melintasi bukit-bukit dan gurun. Maka sering terjadi perampokan-perampokan kafilah dagang yang pada waktu itu alat transportasinya adalah Unta. Namun setelah ajaran Islam datang dan berkembang, perjalanan kemana saja diwilayah timur tengah itu dapat dilakukan dengan aman. Sampai hari inipun di kota Mekkah orang dapat meninggalkan barang dagangannya atau tokonya diwaktu sholat tanpa harus takut kehilangan. Hal tersebut tentu tidak terlepas setelah mereka memahami ajaran Islam dengan baik bahwa perbuatan merampok dan mencuri itu adalah sebuah dosa besar. Aqidah Islam telah menjadi keyakinan hidup sehari-hari, sehingga terciptalah rasa aman karena keyakinan, bukan karena ketakutan adanya polisi atau aparat keamanan lainnya.

Akhir-akhir ini, dinegeri kita sendiri, kita sering merasa tidak aman. Kita mulai kehilangan rasa aman dalam kehidupan sehari-hari, baik dirumah maupun diluar rumah. Nyawa manusia dengan mudah sekali dapat dihilangkan oleh perampokan, perkosaan dan pembunuhan. Itu semua menjadi berita rutin diberbagai media, baik media cetak, media elektronik maupun media lainnya, seakan-akan berita tersebut sudah menjadi hal yang biasa dalam kehidupan.

Pada prinsipnya dalam kehidupan ini, manusia mempunyai tiga kebutuhan dasar yang  harus terpenuhi. Dengan itu manusia akan dapat hidup dengan tenang, jika kebutuhan tersebut dapat terpenuhi. Tiga kebutuhan dasar itu adalah :
 
1. Kebutuhan akan rasa aman.
2. Kesehatan.
3. Terpenuhinya kebutuhan pangan.
 
Dalam sebuah hadits nabi dijelaskan yang artinya : ”Apabila seseorang bangun dipagi hari, sehat badannya dan cukup yang akan dimakan dihari itu, maka seakan-akan dunia sudah berada ditangannya.”

   
Akan tetapi, apabila salah satunya terganggu, seperti hilangnya rasa aman, berarti sepertiga dari kebutuhan dasar manusia akan ikut terganggu. Kita memerlukan rasa aman dirumah, aman diperjalanan, aman untuk berusaha, aman untuk berinvestasi, dan sebagainya. Pokoknya dalam hidup ini kita memerlukan terjaminnya rasa aman. Jika pemerintah dapat menciptakan rasa aman ini bagi seluruh rakyat dan bangsa ini, insya Allah ekonomi akan bergerak, aktifitas masyarakat akan berjalan tanpa gangguan, investasi akan masuk, lapangan kerja akan terbuka, pengangguran akan berkurang. Kita pun akan dapat menjalankan ibadah dengan baik.



Tugas pemerintah adalah menciptakan rasa aman bagi seluruh rakyat. Keamanan tidak akan terwujud kecuali dengan tegaknya hukum, terpenuhinya kebutuhan hidup rakyat, tersedianya lapangan kerja, pelayanan kesehatan yang murah dan kesempatan memperoleh pendidikan yang terjangkau.



Nabi Ibrahim ketika telah menetap di Mekkah dan telah memiliki keturunan, antara lain adalah Islamil as, beliau memohon kepada Allah swt agar negeri ini (Mekkah) dijadikan negeri yg aman oleh Allah, seperti terdapat dalam surat Ibrahim ( 14) ayat 35 yang artinya    ”dan ingatlah, ketika Ibrahim berkata :” ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekkah) negeri yang aman, dan jauhkanlah aku dan anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala”.



RASA AMAN TERKAIT DENGAN IMAN



Rasa aman tidak akan terwujud dalam satu negeri apabila manusia-manusia yang ada dalam wilayah tersebut tidak terbina dengan baik, tidak mendapatkan pendidikan yang memadai, tidak memiliki iman, tidak mendapatkan kesempatan untuk berusaha, dan tidak terbukanya lapangan kerja buat mereka memperoleh penghasilan. Antara keamanan dan kualitas pendidikan mempunyai hubungan yang sangat erat termasuk pendidikan dibidang Agama.



Dahulu ketika umat Islam jumlahnya masih sedikit dan mereka terbina dengan baik, maka rasa aman tersebut dapat terwujud. Tetapi setelah jumlahnya semakin besar, tidak terbina dengan baik, akhirnya memunculkan ketidak amanan di lingkungan, muncul sikap individualis, anarkis dan kekerasan. Rasa aman itu juga pemberian dari Allah SWT, karena jika kita menyadari semakin dilaksanakan hukum-hukum Allah dengan baik, maka akan terwujudlah rasa aman.



Didalam QS. Al-Anfal (8) ayat 26, Allah berfirman yang artinya : ”dan ingatlah (hai para muhajirin) ketika kalian masih berjumlah sedikit, lagi tertindas dimuka bumi (Mekkah) kamu takut orang-orang kafir quraisy akan menculik kamu, maka Allah berikan tempat menetap (Madinah) bagimu dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan itu dan diberi-Nya kamu rezeki yang baik agar kamu bersyukur”.



Setelah di Madinah inilah Allah berikan rasa aman kepada kaum muslimin, dimana sebelumnya mereka mendapatkan ancaman, tekanan dan terror dari kafir Quraiys ketika masih di Mekkah. Di Madinah inilah kemudian agama Islam dapat ditegakkan secara utuh



Selanjutnya dalam ayat lain Q.S. Al-’Araaf (7) ayat 96, Allah berfirman yang artinya :  “jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri ini beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan dari bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatan mereka sendiri”.



Selanjutnya, dalam QS. An-Nur (24) ayat 55 Allah berfirman yang artinya : “Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu, yang mengerjakan amal-amal saleh, sungguh Allah akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia (Allah) telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang di ridhoi-Nya dan benar-benar akan mengganti rasa takut mereka dengan rasa aman dengan syarat mereka beribadah kepada Allah dan tidak mensekutukan-Nya dengan sesuatu apapun juga. Barang siapa yang kafir sesudah janji itu mereka itulah orang-orang yang fasiq”.

Selanjutnya, dalam QS. Al-An’Aam (6) ayat 82, Allah berfirman yang artinya : ”mereka-mereka yang beriman dan tidak mencampur adukan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang akan mendapatkan rasa aman dan mereka itu juga adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”.

Sebaliknya, apabila nikmat iman itu ditukar dengan kekufuran (syirik) maka kita akan kehilangan rasa aman dan memunculkan ketakutan. Sebagaimana firman Allah dalam Surat An-Nahl (16) ayat 112, Allah berfirman yang artinya : ” dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman dan tentram rezekinya melimpah dari segala penjuru. Tetapi (penduduknya) kemudian mengingkari nikmat-nikmat Allah. Lalu Allah menyiksa kepada mereka dengan kelaparan, dan ketakutan, disebabkan apa yang mereka perbuat”.



Hilangnya rasa aman, akan menyulitkan kita untuk berusaha, berpergian meninggalkan rumah dan sebagainya. Kita menjadi tidak aman dijalan, di kendaraan, di tempat-tempat umum, bahkan dirumah sendiri.



Padahal keamanan dan rasa aman itu adalah kebutuhan dasar manusia dalam hidup. Keamanan akan memudahkan kita berusaha dan berinvestasi. Jika negara tidak dalam keadaaan aman, investor tidak berani masuk, bahkan yang didalam negeri pun bisa lari ke luar. Sejak krisis moneter pada tahun 1997, sampai saat ini rasa aman kita sering terganggu. Ekonomi menjadi sulit, khususnya bagi masyarakat luas. Negeri menjadi rawan kejahatan dan kekerasan, bahkan sampai kejahatan kerah putih berkembang dengan pesat, seperti yang kita saksikan hari ini. Kesulitan hidup akan membuat orang menjadi gelap mata, melakukan kejahatan dan lain sebagainya.

KEIMANAN

Keimanan akan membuat orang takut kepada Allah dan takut melanggar hukum-hukum lainnya. Keimanan akan membuat orang menjadi yakin, bahwa siapa saja dan apa saja yang dilakukan dan sekecil apapun kejahatan itu akan mendapatkan balasan dari Allah. Orang bisa bebas dari hukuman didunia, tetapi tidak akan bisa bebas dari keadilan Allah di Akhirat, dan itu adalah prinsip keimanan.

Keimanan akan memberikan semangat hidup, agar manusia bekerja keras dalam mencari rezeki yang halal. Dia sadar dan yakin bahwa semua mahluk yang hidup dibumi ini ada rezkinya ditangan Allah. Ada saat orang menghadapi kesulitan tetapi dia sabar dan tidak akan mencari solusi memecahkan masalah dengan cara-cara yang haram.

Keimanan akan membuat orang menjadi terkontrol dan seimbang dalam hidupnya. Keimanan akan membuat hidup menjadi indah.  Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah (2) ayat 155 sampai 157 yang artinya : ”dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan innalillahi wa inna illaihi raaji’uun. Kita semua milik Allah dan semua kita akan kembali kepada-Nya. Mereka itulah yang mendapat keberkahan dan rahmat dari Allah dan mereka itulah orang yang memperoleh petunjuk.”

Keimanan dalam konteks keamanan, harus menjadi milik bersama. Karena keamanan terkait hubungan individu dengan yang lain, dan ini disebut sebagai hukum publik.
Dari uraian-uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dosa dan maksiat menjadi faktor hilangnya rasa aman, munculnya rasa takut, datangnya fitnah dan musibah serta datangnya kegoncangan dalam kehidupan.
Mudah-mudahan kita dapat mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari. Wallahu a’lam. (Drs. H.Amlir Syaifa Yasin, MA/Sekretaris Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia)

11.11.11

Menyambut Tahun Baru 1433 Hijriyah

Posted oleh : amresobri
PERJALANAN hari dan pergantian waktu telah mengantarkan kita pada pergantian tahun. Tanpa kita sadari umur pun telah bertambah, penantian ajal pun semakin mendekat, walaupun kita tidak pernah tahu kapan datang waktunya.

Pergantian tahun seyogyanya menjadi bahan perenungan kita tentang perjalanan hidup. Apakah yang sudah berubah dalam hidup kita. Apakah kita sudah berubah kearah yang lebih baik dari hari sebelumnya. Dalam ajaran Islam hari yang tengah dilalui harus lebih baik dari hari kemarin, sementara hari esok harus lebih baik dari hari ini. Maka pergantian tahun seyogyanya menjadi ajang muhasabah.


Sejarah Penetapan Tahun Hijriyah
Ketika khalifah Umar bin Khattab berkirim surat kepada Gubernurnya, Abu Musa Al Asy’ari kemudian surat tersebut dibalas oleh Abu Musa dengan kalimat berdasarkan surat Amirul Mu’minin Khalifah Umar Ibnu Khattab yang tanpa tanggal, saya (Abu Musa) menjawab : …………….., dan seterusnya. Setelah menerima surat dari Abu Musa ini, barulah terpikir oleh Khalifah Umar kenapa kita ummat Islam tidak memiliki penanggalan tersendiri.

Diadakanlah musyawarah, dipanggillah sejumlah sahabat, maka muncullah beberapa saran-saran antara lain, Kenapa kita tidak mulai penanggalan itu dari kelahiran Nabi Muhammad SAW, ada yang mengusulkan ketika turunnya wahyu pertama kali di Gua Hira. Ada juga yang mengusulkan terjadinya peristiwa Isra dan Mi’raj dan ada juga yang mengusulkan dari Hijrahnya Nabi dan para sahabat dari Mekkah ke Madinah.

Setelah membahas hal-hal yang sangat substansial dan mengandung nilai sejarah yang berdampak luas pada risalah Nabi Muhammad SAW, maka disepakatilah peristiwa berpindahnya sejumlah sahabat bersama Rasulullah dari Mekkah ke Yastrib yang kemudian dikenal dengan Madinah merupakan peristiwa yang paling bersejarah dan memiliki dampak yang sangat luas. Dan itu pun dilakukan setelah turun firman Allah dalam surat An Nisa (4) ayat 97 yang artinya Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan Malaikat dalam Keadaan Menganiaya diri sendiri  (kepada mereka) Malaikat bertanya : "Dalam Keadaan bagaimana kamu ini?". mereka menjawab: "Adalah Kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)". Para Malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?". orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.

Sebelumnya para sahabat termasuk Rasulullah SAW mendapat tekanan dari kaum kafir Quraisy dalam bentuk boikot, teror, ancaman diculik, bahkan rencana pembunuhan. Para sahabat yang tidak kuat menahan tekanan, ancaman dan lain sebagainya meminta izin kepada Rasulullah SAW sebagaimana yang dinukilkan dalam kitab Fiqh Al Siroh yang ditulis oleh Said Ramadhan Al Buthi dalam bab Hijrah. Kemudian Nabi mengizinkan setelah turunnya wahyu dengan sabdanya : “Sungguh telah diinformasikan kepadaku negeri dimana kalian bisa hijrah yaitu kota Yastrib”.

Lebih dari 1400 tahun yang lalu berangkatlah sejumlah penduduk yang tinggal di daerah lembah penuh perbukitan, kearah yang tandus, tidak ada air didaerah yang disebut dalam do’a Nabi Ibrahim yang mengatakan : “aku meninggalkan anak keturunanku disebuah lembah yang tidak ada disana tumbuh-tumbuhan disamping Baitullah”.

Mereka berhijrah bukan karena kesusuhan hidup secara ekonomi. Bukan karena miskin, tidak punya harta, kekayaan di Mekkah. Mereka adalah sahabat-sahabat kaya, pedagang, peternak dan lain sebagainya. Bahkan banyak diantara mereka adalah orang sudah terbiasa melakukan perjalanan jauh ke Syria, Bahrain, Negeri Syam dan kota-kota lainnya. Tetapi mereka hijrah karena ingin memelihara keimanannya, mengembangkan da’wah mencari tempat yang kondusif untuk perkembangan Islam kedepan. Itupun atas izin Rasulullah dan perintah dari Allah SWT.

Perjalanan ini kemudian menjadi perjalanan bersejarah, menjadi tonggak ditetapkannya tahun Hijriyah, penanggalan ummat Islam. Mereka yang hijrah disebut Muhajirin, sementara saudara-saudara mereka yang menerima disebut Al Ansor.


Pengertian Hijrah

Hijrah dari segi bahasa adalah berpindah dari negeri asal atau dari negeri sendiri ke negeri orang lain. Kata Hijrah dapat dipadankan dengan kata berimigrasi atau merantau. Berusaha dinegeri orang dengan harapan dapat merubah nasib, mendapat keberhasilan lebih baik dibanding dinegeri sendiri. Maka hijrah disini lebih pada motif ekonomi.

Dalam berbagai kasus di dunia saat ini, sering warga pendatang atau imigran dipandang sinis atau sebelah mata oleh penduduk asli. Berbeda halnya ketika muslimin (Muhajirin) hijrah ke Madinah, oleh penduduk asli Madinah atau Ansor malah diterima dengan sepenuh hati, bahkan dianggap keluarga sendiri, saling waris mewarisi hingga turun ayat tentang waris.


Hijrahnya Nabi Muhammad Saw Bersama Sahabat

Hijrah nabi Muhammad SAW dan para sahabat dari Mekkah ke Madinah sudah melalui pertimbangan yang matang, bahkan atas perintah Allah SWT seperti tersebut dalam surat Annisa ayat 97.

Sebelum terjadinya peristiwa hijrah, masyarakat Madinah itu telah terkondisi dengan baik melalui da’wah panjang sebelumnya yang dilakukan oleh Mus’ab bin Umair dan kawan-kawan. Bahkan sebelumnya terjadi Bai’ah (sumpah setia) sahabat-sahabat Ansor melalui Bai’atul Aqobah I dan II, dimana mereka berjanji akan melindungi dan membela Nabi Muhammad SAW dan para sahabat Muhajirin yang hijrah ke Madinah. Mereka menyambut dengan suka cita dan berjanji setia dibawah pimpinan Nabi Muhammad SAW.

Berkembangnya ajaran Islam secara komprehensif dalam semua aspek kehidupan termasuk bidang politik dan kekuasaan terjadi setelah peristiwa hijrah ke Madinah.


Essensi Hijrah

Hijrah secara fisik untuk saat ini tentu tidak mungkin untuk kita lakukan. Karena kita tidak hidup dibawah tekanan, teror dan sebagainya. Kita masih memiliki kebebasan menjalani kehidupan beragama dengan leluasa. Dalam kondisi saat ini yang perlu kita lakukan adalah hijrah hati nurani, hijrah perilaku, hijra pemikiran dan perbuatan dari masa lalu yang penuh dengan perbuatan maksiat, dosa dan kekerasan kedalam perilaku yang sesuai dengan ajaran Islam. Seperti kata Umar bin Khattab, “Hijrah itu adalah garis pemisah antara yang hak dan yang batil, jadikanlah itu sebagai penanggalan”.

Dalam surat Al Taubah (9) ayat 20 sampai 21 Allah SWT berfirman : Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih Tinggi derajatnya di sisi Allah; dan Itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari padanya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh didalamnya kesenangan yang kekal. (Sumber : Dewan Dakwah Pusat, karya Amlir Syaifa Yasin)

4.11.11

SENYUM , HATI dan MARAH


Sekali senyum curiga hilang.

Dua kali senyum jadi sahabat.
Tiga kali senyum hati penuh damai.
Empat kali senyum beban jadi ringan.
Lima kali senyum rezeki datang.
Enam kali senyum keluarga rukun.

HENING

Dalam sebuah keheningan malam, seekor anak kelinci tampak gelisah dalam lubang nyaman keluarganya. Entah kenapa, matanya sulit untuk dipejamkan. Pikirannya selalu menerawang ke arah gelap yang membuat suasana kian hening.

“Ayah, kenapa di sebagian hidup kita selalu ada malam yang membuat hening?” tanya sang anak kelinci kepada ayahnya yang tiba-tiba terbangun.

Setelah berpikir sebentar, sang ayah kelinci menjawab, “Begitulah Yang Maha Kuasa menciptakan keseimbangan dalam hidup kita. Ada saatnya kita bergerak, berlari, mencari makan, dan ada saatnya kita beristirahat.”

“Ayah, bukankah kita bisa istirahat dalam suasana terang?” sergah sang anak kelinci di luar dugaan ayahnya.

“Anakku, dalam diri kita ada ego, nafsu yang selalu memaksa kita untuk memenuhi kemanjaan-kemanjaannya. Kepuasannya tidak akan pernah berakhir hingga kita mati. Karena itulah, Yang Maha Bijaksana menciptakan malam untuk memaksa kita tidak lagi menuruti ego atau nafsu,” ucap sang ayah kelinci panjang.

“Tapi ayah, aku tidak bisa terlalu lama mengisi malam hanya dengan istirahat. Seperti yang kualami malam ini,” ungkap si anak kelinci lagi.

“Anakku, malam hanya bentuk dari sebuah keadaan. Isi yang utamanya adalah keheningan. Saat itulah, makhluk hidup seperti kita terpenjara alam ketidakberdayaannya. Dan saat itulah, kita tersadarkan dengan kesalahan, kekhilafan, kelengahan atas apa yang telah kita lakukan di siang tadi agar tidak lagi terulang esoknya. Itulah istirahat yang sebenarnya,” jelas sang ayah kelinci.

***

Hiruk pikuk kehidupan selama sebelas bulan dalam putaran satu tahun, seperti memenjara kita dalam ruang sempit yang dikuasai nafsu dan syahwat. Seluruh raga terus ingin bergerak memenuhi perintah syahwat untuk mendapatkan kepuasan sesuatu: harta, seks, kekuasaan, kepemilikan, dan sejenisnya.

Allah swt. memaksa hamba-hambaNya yang Ia cintai untuk sejenak berada dalam keheningan. Keheningan malam yang memberikan ruang bagi ruhani bergerak mengalahkan syahwat, untuk terbang ke langit meninggalkan hinanya tarikan dunia.

Dan, keheningan beberapa hari terakhir di bulan suci ini untuk melihat wajah dunia sebelas bulan kita apa adanya. Untuk sesaat, memenjarakan syahwat yang selama ini telah menjadi tuan dalam diri kita. (muhammadnuh@eramuslim.com)