11.11.11

Menyambut Tahun Baru 1433 Hijriyah

Posted oleh : amresobri

PERJALANAN hari dan pergantian waktu telah mengantarkan kita pada pergantian tahun. Tanpa kita sadari umur pun telah bertambah, penantian ajal pun semakin mendekat, walaupun kita tidak pernah tahu kapan datang waktunya.

Pergantian tahun seyogyanya menjadi bahan perenungan kita tentang perjalanan hidup. Apakah yang sudah berubah dalam hidup kita. Apakah kita sudah berubah kearah yang lebih baik dari hari sebelumnya. Dalam ajaran Islam hari yang tengah dilalui harus lebih baik dari hari kemarin, sementara hari esok harus lebih baik dari hari ini. Maka pergantian tahun seyogyanya menjadi ajang muhasabah.


Sejarah Penetapan Tahun Hijriyah
Ketika khalifah Umar bin Khattab berkirim surat kepada Gubernurnya, Abu Musa Al Asy’ari kemudian surat tersebut dibalas oleh Abu Musa dengan kalimat berdasarkan surat Amirul Mu’minin Khalifah Umar Ibnu Khattab yang tanpa tanggal, saya (Abu Musa) menjawab : …………….., dan seterusnya. Setelah menerima surat dari Abu Musa ini, barulah terpikir oleh Khalifah Umar kenapa kita ummat Islam tidak memiliki penanggalan tersendiri.

Diadakanlah musyawarah, dipanggillah sejumlah sahabat, maka muncullah beberapa saran-saran antara lain, Kenapa kita tidak mulai penanggalan itu dari kelahiran Nabi Muhammad SAW, ada yang mengusulkan ketika turunnya wahyu pertama kali di Gua Hira. Ada juga yang mengusulkan terjadinya peristiwa Isra dan Mi’raj dan ada juga yang mengusulkan dari Hijrahnya Nabi dan para sahabat dari Mekkah ke Madinah.

Setelah membahas hal-hal yang sangat substansial dan mengandung nilai sejarah yang berdampak luas pada risalah Nabi Muhammad SAW, maka disepakatilah peristiwa berpindahnya sejumlah sahabat bersama Rasulullah dari Mekkah ke Yastrib yang kemudian dikenal dengan Madinah merupakan peristiwa yang paling bersejarah dan memiliki dampak yang sangat luas. Dan itu pun dilakukan setelah turun firman Allah dalam surat An Nisa (4) ayat 97 yang artinya Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan Malaikat dalam Keadaan Menganiaya diri sendiri  (kepada mereka) Malaikat bertanya : "Dalam Keadaan bagaimana kamu ini?". mereka menjawab: "Adalah Kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)". Para Malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?". orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.

Sebelumnya para sahabat termasuk Rasulullah SAW mendapat tekanan dari kaum kafir Quraisy dalam bentuk boikot, teror, ancaman diculik, bahkan rencana pembunuhan. Para sahabat yang tidak kuat menahan tekanan, ancaman dan lain sebagainya meminta izin kepada Rasulullah SAW sebagaimana yang dinukilkan dalam kitab Fiqh Al Siroh yang ditulis oleh Said Ramadhan Al Buthi dalam bab Hijrah. Kemudian Nabi mengizinkan setelah turunnya wahyu dengan sabdanya : “Sungguh telah diinformasikan kepadaku negeri dimana kalian bisa hijrah yaitu kota Yastrib”.

Lebih dari 1400 tahun yang lalu berangkatlah sejumlah penduduk yang tinggal di daerah lembah penuh perbukitan, kearah yang tandus, tidak ada air didaerah yang disebut dalam do’a Nabi Ibrahim yang mengatakan : “aku meninggalkan anak keturunanku disebuah lembah yang tidak ada disana tumbuh-tumbuhan disamping Baitullah”.

Mereka berhijrah bukan karena kesusuhan hidup secara ekonomi. Bukan karena miskin, tidak punya harta, kekayaan di Mekkah. Mereka adalah sahabat-sahabat kaya, pedagang, peternak dan lain sebagainya. Bahkan banyak diantara mereka adalah orang sudah terbiasa melakukan perjalanan jauh ke Syria, Bahrain, Negeri Syam dan kota-kota lainnya. Tetapi mereka hijrah karena ingin memelihara keimanannya, mengembangkan da’wah mencari tempat yang kondusif untuk perkembangan Islam kedepan. Itupun atas izin Rasulullah dan perintah dari Allah SWT.

Perjalanan ini kemudian menjadi perjalanan bersejarah, menjadi tonggak ditetapkannya tahun Hijriyah, penanggalan ummat Islam. Mereka yang hijrah disebut Muhajirin, sementara saudara-saudara mereka yang menerima disebut Al Ansor.


Pengertian Hijrah

Hijrah dari segi bahasa adalah berpindah dari negeri asal atau dari negeri sendiri ke negeri orang lain. Kata Hijrah dapat dipadankan dengan kata berimigrasi atau merantau. Berusaha dinegeri orang dengan harapan dapat merubah nasib, mendapat keberhasilan lebih baik dibanding dinegeri sendiri. Maka hijrah disini lebih pada motif ekonomi.

Dalam berbagai kasus di dunia saat ini, sering warga pendatang atau imigran dipandang sinis atau sebelah mata oleh penduduk asli. Berbeda halnya ketika muslimin (Muhajirin) hijrah ke Madinah, oleh penduduk asli Madinah atau Ansor malah diterima dengan sepenuh hati, bahkan dianggap keluarga sendiri, saling waris mewarisi hingga turun ayat tentang waris.


Hijrahnya Nabi Muhammad Saw Bersama Sahabat

Hijrah nabi Muhammad SAW dan para sahabat dari Mekkah ke Madinah sudah melalui pertimbangan yang matang, bahkan atas perintah Allah SWT seperti tersebut dalam surat Annisa ayat 97.

Sebelum terjadinya peristiwa hijrah, masyarakat Madinah itu telah terkondisi dengan baik melalui da’wah panjang sebelumnya yang dilakukan oleh Mus’ab bin Umair dan kawan-kawan. Bahkan sebelumnya terjadi Bai’ah (sumpah setia) sahabat-sahabat Ansor melalui Bai’atul Aqobah I dan II, dimana mereka berjanji akan melindungi dan membela Nabi Muhammad SAW dan para sahabat Muhajirin yang hijrah ke Madinah. Mereka menyambut dengan suka cita dan berjanji setia dibawah pimpinan Nabi Muhammad SAW.

Berkembangnya ajaran Islam secara komprehensif dalam semua aspek kehidupan termasuk bidang politik dan kekuasaan terjadi setelah peristiwa hijrah ke Madinah.


Essensi Hijrah

Hijrah secara fisik untuk saat ini tentu tidak mungkin untuk kita lakukan. Karena kita tidak hidup dibawah tekanan, teror dan sebagainya. Kita masih memiliki kebebasan menjalani kehidupan beragama dengan leluasa. Dalam kondisi saat ini yang perlu kita lakukan adalah hijrah hati nurani, hijrah perilaku, hijra pemikiran dan perbuatan dari masa lalu yang penuh dengan perbuatan maksiat, dosa dan kekerasan kedalam perilaku yang sesuai dengan ajaran Islam. Seperti kata Umar bin Khattab, “Hijrah itu adalah garis pemisah antara yang hak dan yang batil, jadikanlah itu sebagai penanggalan”.

Dalam surat Al Taubah (9) ayat 20 sampai 21 Allah SWT berfirman : Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih Tinggi derajatnya di sisi Allah; dan Itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari padanya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh didalamnya kesenangan yang kekal. (Sumber : Dewan Dakwah Pusat, karya Amlir Syaifa Yasin)

0 komentar:

Poskan Komentar